Pandangan umum lainnya mengatakan bahwa bidang keahlian (jurusan) Teknik Mesin itu kotor. Maksudnya, jurusan ini melibatkan banyak oli, pelumas dan lain-lain yang kotor. Melibatkan angkat-angkat pipa baja, bermain dengan mur dan baut, roda gigi dan lainnya. Sampai taraf tertentu mungkin benar, tapi tentunya tidak selalu.
Benarkah wanita tidak cocok berkuliah di Teknik Mesin? Apakah kegiatan belajar dan pencapaian prestasi di jurusan Teknik Mesin akan terganggu oleh kondisi berjenis kelamin wanita?
Sebenarnya sedikit 'tabu' untuk membicarakan masalah ini. Sangat sulit untuk membicarakan ini tanpa menjadi sexist, dan ini bukanlah cara pandang yang aku suka. Jadi, tolong jangan membaca ini dengan pandangan skeptis sexist ya. Laki-laki dan wanita itu berbeda, dan itu adalah fakta. Namun mengenai hak dan kewajiban, sampai beberapa tingkat, harusnya sama. Terima kasih.
Kembali ke pertanyaan tadi...
Tentu saja TIDAK!
Justru wanita yang menjadi mahasiswi Teknik Mesin mempunyai beberapa keunggulan apabila dibandingkan dengan mahasiswa.
Baiklah. Sebelum mulai membandingkan antara laki-laki dan perempuan, mungkin akan lebih baik kalau cerita dimulai dari apa yang semua mahasiswa/i akan hadapi ketika mereka berkuliah di Teknik Mesin. Bisa berbeda untuk kampus yang berbeda, tapi inilah yang terjadi di kampusku.
Fisika-Mekanika
Mata kuliah di Teknik Mesin banyak membicarakan mengenai bidang ilmu Fisika-Mekanika. Apa itu Fisika-Mekanika? Mungkin ini hanyalah sebuah terminologi karangan si penulis saja hehe. Pada dasarnya, apa yang dipelajari di Teknik Mesin (secara umum) adalah hal yang sama dengan apa yang dipelajari di Fisika. Hanya saja, Teknik mesin lebih menekankan pada sub bidang ilmu mekanika, dan lebih dititik-beratkan pada penerapan daripada keilmuannya itu sendiri. Dengan kata lain, Teknik Mesin lebih tertarik pada "Bagaimana" daripada "Mengapa". Teknik Mesin menerapkan hasil-hasil yang didapatkan oleh para jenius di bidang Fisika untuk diterapkan dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, orang yang tertarik untuk menjadi mahasiswa/i Teknik Mesin sebaiknya memiliki ketertarikan pada Fisika.
4-Dimensi dan Vektor
Teknik Mesin akan banyak melibatkan pemahaman dan kemampuan untuk memvisualisasikan (baca: berkhayal, membayangkan dll) 4-Dimensi: panjang, lebar, tinggi dan waktu. Teknik Mesin akan banyak membahas mengenai besaran-besaran vektor. Utamanya: gaya, tegangan, kecepatan, percepatan dll.
Teknik Mesin menggunakan 'bahasa gambar' dalam komunikasi ide. Bukan gambar seni, tapi gambar teknik yang menggunakan banyak simbol, dimensi, arah panah dan lain-lain. Kemampuan untuk menggambar (seni) tidaklah penting. Itu akan menjadi sebuah keunggulan, tapi tidaklah penting. Kemampuan untuk membaca gambar masih lebih penting.
Jadi, singkat kata, orang yang tertarik untuk menjadi mahasiswa/i Teknik Mesin sebaiknya memiliki ketertarikan (atau lebih tepatnya memiliki kemampuan) pada kemampuan spatial.
Wanita dan Teknik Mesin
Merunut pada dua poin di atas, tidak ada satupun bagian yang menyatakan (atau menuntut) bahwa orang yang mempelajari Teknik Mesin, ataupun menjadi ahli, harus berjenis kelamin laki-laki ataupun wanita. Tidak ada batasan mental atau fisik apapun yang menghalangi wanita untuk mempelajari Teknik Mesin, walaupun pakar psikologi mungkin akan mengatakan bahwa pria dan wanita mempunyai pola pikir yang berbeda. Salah satunya adalah bahwa pria mempunyai kemampuan spatial yang lebih baik dari wanita, sementara wanita punya kemampuan mengingat yang lebih baik dari pria. Jadi, menurut penulis, ini lebih pada kemampuan pribadi masing-masing, dan bukan karena jenis kelamin.
Fakta menunjukkan bahwa perbandingan mahasiswi dan mahasiswa di jurusan Teknik Mesin sangatlah kontras. Di kampus kami, perbandingannya adalah sebagai berikut:
- Tahun 1995: 0 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 1996: 1 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 1997: 1 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 1998: 1 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 1999: 3 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 2000: 2 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 2001: 5 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
- Tahun 2002: 2 mahasiswi dari sekitar 130 mahasiswa
Bahkan tidak pernah mencapai 10% total mahasiswa
Bagaimana dengan di kampus lain? Kalau masih di Indonesia, datanya bisa dibilang akan setali tiga uang. Namun ada kabar gembira dari negeri seberang. Teman-teman dari kampus di Singapura mengatakan bahwa jumlah mahasiswi di Teknik Mesin hampir selalu mencapai 30% total mahasiswa. Mengapa Teknik Mesin tampak begitu ditakuti oleh para wanita? Mungkin karena banyak mitos yang perlu diluruskan, atau fakta (lama) yang perlu diperbaharui.
Mitos atau Fakta?
Mari pembaca tebak, mana yang fakta dan mana yang mitos...
Teknik Mesin itu ilmu yang mempelajari mesin mobil. Ini adalah mitos yang sudah banyak (dan juga mudah) disanggah. Bahkan sudah pernah dibahas di sini pada tulisan sebelumnya.
Teknik Mesin itu akan selalu berhubungan dengan oli dan gemuk. Lulusan Teknik Mesin akan bekerja di bengkel, pabrik, berlumuran oli dan keringat. Ini juga mitos. Yah, ada sedikit benarnya, tapi lebih banyak salahnya. Bahkan mungkin ada beberapa di antara kami yang bisa lulus tanpa tahu apa bedanya oli dan gemuk. Lulusan Teknik Mesin bisa bekerja di bengkel, pabrik, berlumuran oli dan keringat. Tapi lulusan Teknik Mesin juga bisa bekerja di belakang meja, di balik komputer ataupun meja gambar. Fakta mengatakan bahwa lebih dari 50% lulusan Teknik Mesin justru bekerja di belakang komputer. Jauh dari mitos di atas.
Teknik Mesin adalah dunia laki-laki, di mana para wanita hanya akan menjadi budak dan terintimidasi. Dilecehkan dan dihina. Jelas mitos. Kalau boleh berpendapat, justru para wanita ini menjadi ratu bagi kami - mahasiswa Teknik Mesin. Sebuah 'harta' bernilai sangat tinggi yang harus diperlakukan dengan hati-hati. Justru terkadang (atau lebih tepatnya: sering) kami - mahasiswa Teknik Mesin yang bodoh - seakan-akan menjadi kerbau tercocok-hidung yang menuruti semua permintaan dari sang ratu. Mulai dari antar ke sini-sana, jemput ini-itu, ajari ini-itu dan beli ini-itu. Tentunya dengan imbalan yang sesuai. Apa itu? Diperbolehkan untuk meminjam catatan kuliah. Fakta menyatakan bahwa mahasiswa malas mencatat. Kalaupun mencatat, biasanya tidak rapi. Mahasiswi cenderung lebih rapi.
Teknik Mesin adalah dunia laki-laki, di mana pria tidak pernah mandi sebelum kuliah dan berpakaian ala kadarnya. Ruang kuliah jadi tidak kondusif dan wanita akan menderita karenanya. Ini adalah fakta. Lebih tepatnya, ini adalah fakta lama. Dahulu kala ketika Teknik Mesin (dengan mitos-mitosnya) belum tersentuh wanita, para mahasiswa seakan-akan tidak peduli dengan dirinya. Tidak perlu tampak rapi dan ganteng. "Siapa yang mau peduli?", pikir kami. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, satu wanita bisa mengubah jalan hidup banyak laki-laki. Mahasiswa Teknik Mesin berevolusi menjadi manusia yang lebih bermartabat. Satu wanita bisa berarti satu tautan menuju banyak wanita lain. Dan kami sangat menghargai itu.
Teknik Mesin adalah dunia laki-laki, di mana 50% mahasiwanya adalah gay dan 50% sisa adalah pasangannya. atau Teknik Mesin adalah dunia laki-laki, di mana para mahasiswanya pintar, macho dan gentleman. Keduanya adalah mitos. Tentunya Anda tidak dapat mengeneralkan sesuatu yang sangat heterogen. Dan kedua pernyataan di atas merupakan sifat bawaan pribadi, tidak ada hubungannya dengan bidang ilmu yang dipelajari.
Dan masih banyak lagi fakta dan mitos lainnya. Untuk mengetahui apakah itu fakta atau mitos, lebih baik ditanyakan langsung pada teman anda yang saat ini (atau pernah) memiliki status sebagai mahasiswa Teknik Mesin.
Kesimpulan akhir
Pernyataan bahwa mahasiswi akan mengalami kesulitan saat berkuliah di Teknik Mesin adalah mitos. Dan, penyataan bahwa mahasiswi Teknik Mesin akan membawa warna baru dan kecerahan hidup di Teknik Mesin adalah fakta.
Article Detail
- Original Writer:
- Cahyo Martosudirjo(Mechanical Engineer)
- One of TM.org permanent contributor, Cahyo is famous for his simple approach to explain the complexity of mechanical engineering material
- Editors:
- Andrianto Hapsoro
- Translator+Spell Checker:
- None
- Illustrator:
- Andrianto Hapsoro
There are currently no trackbacks for this item.
Use this TrackBack url to ping this item (right-click, copy link target).If your blog does not support Trackbacks you can manually add your trackback by using this form
saya setuju kalo wanita di teknik mesin itu adalah kecerahan bagi mahasiswa laki - laki. Dulu, tempatku kuliah cuma ada 1 cewek. Sekarang tidak ada sama sekali.
Tapi kasihan juga kalo lihat cewek ngikir.
- Comment posted by heri ||
saya kira permasalahannya ada di nama, kenapa namanya harus teknik mesin, aslinya kan Mechanical Engineering. siapa yang pertama kali memulai mengartikan Mechanical Engineering sama dengan Teknik Mesin, tidak teknik mekanik saja. Nama akan menggambarkan apa yang ada di dalamnya, kalo orang-orang yang belum faham mendengar kata teknik mesin, ya otomatis mereka akan berfikir sesuai dengan namanya, yang terbayang adalah bengkel, mesin motor, montir dll....
- Comment posted by Ibnu Asikin ||
Emang identik bener dengan cowok, Yah cewek itu bagaikan barang langka di tek. mesin kalo' di kampus kami sih cuma 3 tahun sekali (untung2-ngan ada ceweknya) salut deh dengan artikel ini. OK
- Comment posted by soul2heart ||