Seandainya saya punya anak buah
Mengingat isu utamanya adalah berorganisasi sebagai cara membantu persaingan kerja, maka akan lebih tepat bila saya mengawali dengan kasus fiktif. Anggap saja saya seseorang* yang mencari seorang pegawai baru dan pegawai ini akan bekerja dibawah supervisi saya. Maka dari sisi pencari pegawai, nilai-nilai yang saya cari dari pelamar kerja adalah:
- Mampu bekerja dibawah tekanan, dalam arti yang sebenar-benarnya.
- Cerdas. Didunia pekerjaan saya seorang yang mengetahui cara menghitung inersia pipa tidak lebih baik dari orang yang tidak tahu sama sekali, tapi paling tidak mengetahui beda pompa dan kompresor adalah hal mutlak.
- Sigap.
- Mau belajar.
- Ulet.
Sampai sini, hal yang utama yang saya cari jujur saja akan lebih banyak dicover oleh kegiatan belajat-mengajar. Praktikum yang
berjibun, Dosen-dosen yang selalu menekankan pentingnya filosofi dasar pelajaran, PR yang banyak, jutaan mata kuliah baru yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan keharusan untuk selalu latihan soal agar ujian bisa dilewati bisa membentuk seorang Sarjana teknik yang memenuhi syarat diatas.
Anak buah yang berpotensi menggantikan posisi saya
Hal menjadi sedikit menarik saat pencarian diatas saya tingkatkan kasusnya menjadi seperti ini;
“Anggap saja saya punya beberapa anak buah yang memenuhi syarat diatas, lalu beberapa waktu kemudian, tiba saatnya saya naik jabatan, maka anak buah saya yang mana yang saya pilih menggantikan saya?”
Kantor seperti juga Kampus adalah sebuah
melting pot. Semua jenis manusia biasanya tumpah ruah disini. Coba anda lihat sekeliling anda, ada berbagai jenis sifat manusia berputar dan berinteraksi disekiling anda, ada berbagai jenis ras, agama dan pandangan yang mungkin sekali untuk bertabrakan dengan pandangan anda saat ini.
Sehingga bila saya harus memilih, saya dengan pasti akan memilih anak buah terbaik. Terbaik dalam hal merangkul dan membaca
melting pot diatas (ingat bahwa isunya sudah melewati kemampuan teknis).
Dalam sebuah dunia pekerjaan yang umum, seringkali kita harus berinteraksi dengan berbagai macam orang, ada kolega kita yang mungkin bicaranya selalu tentang poligami, ada juga kolega yang lain yang selalu bilang “mudah-mudahan” setiap ditanya deadline, atau mungkin teman
cubicle sebelah anda punya sifat untuk selalu bicara daerah selangkangan. Mau tidak mau itulah dunia pekerjaan (kita bahkan belum bicara tentang interaksi dengan
client).
Disinilah nilai-nilai yang terdapat didalam diri seseorang akan dites sampai batasnya, Sifat-sifat untuk selalu berpikir terbuka misalnya, atau sifat toleransi dalam kaitannya dengan agama, pandangan dan ras.
Akan menjadi sangat “tidak pada tempatnya” bila saat diskusi dengan teman anda tentang kemungkinan shipping delay suatu project, anda berkata, “Kita serahkan saja kepada Allah SWT, Disitulah ketetapan-Nya berbicara” kepada teman anda yang kebetulan beragama kristen Katolik**.
Menarik untuk diketahui bahwa nilai-nilai seperti diatas ini ternyata akan terasa lebih terasah dan lebih sensitif bila sebelumnya di Kampus anda telah mempelajarinya. Disinilah sebenarnya kegiatan berorganisasi menjadi punya impak serius terhadap jenjang karir. Didalam organisasi Kampus yang bersifat
melting pot inilah (Misalnya Himpunan mahasiswa satu jurusan) nilai-nilai yang bersifat
universal bisa anda dapatkan. Toleransi,
Open minded, tegas,
Risk taker adalah beberapa nilai
universal yang makin dibutuhkan di dunia kerja sekarang.
Mengakali sistem
Bila anda melihat diri anda sendiri, maka mana yang lebih cocok merepresentasikan anda:
John Doe, Pengalaman organisasi:- Kepala Divisi Kaderisasi HMM 2001 - 2002
- Kepala divisi pengembangan kemahasiswaan BEM 2002 - 2003
- Ketua Bakti Sosial Universitas peduli 2003
- Sekretaris Umum Perkumpulan Mahasiswa Rantau
- dll
atau
Jones Doe, Pengalaman organisasi:
- anggota HMM 2001 – 2002
- Anggota divisi keamanan Ospek BEM 2002
- Seksi Umum, bakti sosial universitas peduli 2003
- anggota Perkumpulan Mahasiswa Rantau
Seperti kebanyakkan
CV yang ada, anda dan saya*** mungkin lebih cocok dengan representasi fiktif yang kedua. Terlihat seperti aktif dalam berbagai macam Organisasi tapi kalau dilihat lebih lanjut, posisinya lebih banyak menjadi anggota daripada menjadi bagian decision maker. Bahkan bukan tidak mungkin kalau anda akan mencantumkan,
"partisipan Rapat Senat se Jawa Barat 2004” Setelah anda ikut membantu membawa dua kardus
Aqua kedalam ruangan rapat :). itu pun setelah dipaksa-paksa oleh panitia saat anda sedang bermain kartu di ruangan Himpunan.
Dan jujur, dari pengalaman, penulisan-penulisan seperti ini akan lebih menjerumuskan anda dibandingkan membantu anda mendapatkan pekerjaan.
Dari satu ekstrim ke Ekstrim yang lain
Di lain pihak, tidak jarang juga kita dengar atau lihat, teman-teman kita yang satu jurusan begitu sibuknya berorganisasi sehingga muncul masalah kuliah yang terbengkalai. Untuk menjawab hal ini maka saya hanya bisa berkata, “Bila anda tidak lolos seleksi awalnya, anda tidak akan mempunyai kesempatan untuk membuktikan kemampuan organisasi anda”, dan hal ini juga sangat disayangkan.
Kesimpulan
Berorganisasi itu penting, sejauh kita tahu apa tujuannya dan apa impaknya kedalam kehidupan kita. Impak tidak melulu harus dihubungkan dengan pekerjaan tentunya, walaupun untuk relevansinya dengan tulisan ini maka impak terhadap pekerjaaanlah yang diukur.
Untuk lebih mudah dimengerti, saya akan menggambar suatu grafik yang dulu pernah dibicarakan dikelas.
- Dengan hard skill standard, maka proyeksi karir anda mungkin akan seperti kurva A
- Dengan hard skill yang tinggi, maka proyeksi karir anda mungkin seperti kurva B
- Dengan hard skill standard dan softskill yang tinggi, maka diharapkan kurva C lah yang akan anda dapatkan.
Semoga hal terakhirlah yang bisa kita capai semua, dan semoga kegiatan berorganisasi selama ini bisa memberikan kontribusi nyata kedalam karir kita.
Anda punya pendapat berbeda? Ayo kita diskusi!
Footnote:
*Saya tidak memegang posisis tinggi, cerita mengenai mencari pegawai baru adalah fiktif. Walaupun begitu saya memprojeksikan scope of work saya sekarang ke cerita fiktif tersebut.
** Menurut saya jawaban seperti ini, “yah manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan” akan lebih tepat digunakan, bila situasinya seperti diatas.
**Saya merasa bukan aktivis Kampus. Saya pernah memegang beberapa posisi dalam organisasi di kampus, tapi sekali lagi saya tidak merasa bahwa saya masuk kategori aktivis kampus.
Article Detail
- Original Writer:
- Andrianto Hapsoro
- Editor and Developer
- Editors:
- Andrianto Hapsoro
- Translator+Spell Checker:
- Will be done by Ikram Putra
- Illustrator:
- Andrianto Hapsoro
There are currently no trackbacks for this item.
Use this TrackBack url to ping this item (right-click, copy link target).If your blog does not support Trackbacks you can manually add your trackback by using this form